BAB I
Pendahuluan
A.
Pentingnya
Manajemen Kelas.
Manajemen
kelas bisa di artikan sebagai tindakan mengelola dan menata kelas yang
dilakukan oleh seorang guru, berupa proses mengatur ruang kelas dan kelengkapan
lainnya supaya tertib dan baik. Lebih
spesifik lagi, manajemen kelas adalah suatu tindakan di dalam kelas yang
mencakup tata ruang, tata ajar, tata tertib, dan juga tata krama siswa di dalam
kelas. Jika seorang guru telah memerintahkan kepada siswanya untuk membaca do’a
sebelum memulai pelajaran berarti hal
tersebut termasuk dalam kategori perbuatan memanajemen kelas. Jadi manajemen
kelas itu penting untuk mengatur kelas
agar lebih kondusif dan efisien. Jadi, Seorang guru yang baik dalam memanajemen
kelasnya adalah guru yang mampu mengelola kelasnya menjadi semakin maju dan
tidak ada lagi ketakutan siswa baik terhadap materi maupun terhadap gurunya
sebab perhatian dan bimbingan tersebut tulus dan semangat ingin merubah siswa
menjadi pandai dan berperilaku mulia tertanam di dalam lubuk hatinya sebagai abdi
Bangsa dan Negara.
B.
Pengertian
Manajemen Kelas.
Pengelolaan
merupakan terjemahan dari kata “Management“. Karena terbawa oleh derasnya arus
penambahan kata pungut kedalam Bahasa Indonesia, maka istilah Inggris tersebut
kemudian di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari Manajemen adalah
pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaaan sumber daya secara
efektif untuk mencapai tujuan/ sasaran yang diinginkan. Maka, dapat disimpulkan
bahwa pengelolaan/ manajemen adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar
sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.
Manajemen
kelas adalah merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan,
memahami, mendiagnosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasan kelas
terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah:
sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan seleksi dan
kreatif.
C.
Tujuan
Manajemen Kelas.
Tujuan
manajemen kelas adalah penyediaan pasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar
siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.
Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja,
terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Untuk
lebih jelasnya Arikuno menguraikan rincian tujuan Manajemen Kelas,
sebagaimana berikut ini :
1.
Mewujudkan
situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai
kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan
semaksimal mungkin.
2.
Menghilangkan
berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3.
Menyediakan
dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan
siswa belajar sesuai dengan lingkungan siaoal, emosional dan intelek
siswa dalam belajar.
4.
Membina
dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya,
serta sifat-sifat individunya. Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, (1996).
Menurut
Ahmad (1995:2) bahwa tujuan manajemen kelas adalah sebagai berikut:
a.
Mewujudkan
situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai
kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan
semaksimal mungkin.
b.
Menghilangkan
berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar
mengajar.
c.
Menyediakan
dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan
siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa
dalam kelas.
d.
Membina
dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta
sifat-sifat individunya.
BAB II
Kelas Yang Kondusif Bagi Kegiatan
Belajar Mengajar
A.
Pengertian
Kelas dan KBM
Kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan atas dua pandangan,
yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa.
Disamping itu, Hadari Nawawi juga memandang kelas dari dua sudut,
yakni :
a. Kelas
dalam arti sempit : ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah
siswa berkumpul untuk mengikuti Proses Belajar Mengajar. Kelas dalam pengertian
tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan
siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur
kronologis masing-masing.
b. Kelas
dalam arti luas : suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat
sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara
dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai
suatu tujuan.
Kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan guru dan murid yang harus
mempunyai pola tertentu, seperti dikemukakan J.J Hasibuan yang dikutip oleh
Satyaswari (1998: 17) berikut ini :
1. Strategi
belajar mengajar adalah pola umum perbuatan guru dan murid didalam mewujudkan
kegiatan belajar mengajar. Pengertian strategi dalam hal ini menunjuk pada
karakteristik abstrak dari rentetan perbuatan guru murid di dalam
peristiwa belajar mengajar. Sedangkan rentetan perbuatan guru murid dalam
suatu peristiwa belajar mengajar aktual tertentu, dinamakan prosedur
intruksional
2. Di
dalam kegiatan belajar mengajar, kelas merupakan tempat yang mempunyai sifat
atau ciri khusus. Seperti dikemukakan Arikunto (Lukman, 2003: 11), bahwa: ’Di
dalam kegiatan belajar mengajar, kelas merupakan tempat yang mempunyai sifat
atau ciri khusus yang berbeda dengan tempat lain. Belajar adalah kegiatan
khusus yang memerlukan adanya konsentrasi yang tinggi dan perhatian kita.
3. Kegiatan
belajar mengajar merupakan rentetan perbuatan guru dan murid yang harus
mempunyai pola tertentu, sehingga terjadi proses belajar mengajar dan dapat
mencapai suatu tujuan pembelajaran. Menurut Usman (1990: 21):
Guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang
memberikan rangsangan kepada siswa sehingga ia mau belajar, karena siswalah
subjek utama dalam belajar. Dalam menciptakan kondisi belajar mengajar yang
efektif sedikitnya ada lima jenis variabel yang menentukan keberhasilan belajar
siswa sebagai berikut:
1.
Melibatkan
siswa secara aktif.
2.
Menarik
minat dan perhatian siswa.
3.
Membangkitkan
motivasi siswa.
4.
Prinsip
Individualitas.
5.
Peragaan
dalam pengajaran.
B. Hubungan
Harmonis Guru-Siswa dalam KBM
Hubungan komunikasi timbal balik harus berlangsung secara
independen, tanpa ada tekanan pada masing-masing pihak. Guru merasa nyaman untuk
membelajarkan siswa. Sementara siswa sendiri merasa bebas belajar. Bebas
belajar disini maksudnya mempunyai keleluasaan dalam mengeksploitasi dan
mengeksplorasi materi pelajaran sehingga menjadi milik siswa.
Hubungan komunikasi seperti itu akan terjalin apabila hubungan
sosial antara guru dan siswa berjalan harmonis. Hubungan sosial yang harmonis
sesungguhnya dapat menghemat energi guru dalam menegakkan disiplin belajar.
Prilaku menyimpang siswa selama belajar dapat ditekan sekecil mungkin.
Namun jika hubungan sosial guru dan murid berlangsung sebaliknya.
Energi guru akan tersita hanya untuk menegakkan disiplin belajar siswa.
Menasehati atau memarahi siswa melulu. Akibatnya, apapun strategi dan metode
mengajar, sangat diragukan akan membuahkan hasil kecuali hanya sekadar tertulis
dalam perangkat mengajar yang dibuat oleh guru.
BAB III
Strategi Guru dalam Penciptaan Manajemen Kelas Efektif
Peran Guru Dalam Strategi Pengelolaan Kelas Pada dasarnya guru
merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses
belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk
meningkatkan peran dan kompetensinya.
Adam dan Decey (dalam Usman,
2003) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai
berikut:
(a) guru sebagai demonstrator,
(b) guru sebagai pengelola kelas
(c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan
(d) guru sebagai evaluator.
a. Guru
Sebagai Demonstrator Guru menjadi sosok yang ideal bagi siswanya hal ini
dibuktikan apabila ada orang tua yang memberikan argumen yang berbeda dengan
gurunya maka siswa tersebut akan menyalahkan argumen si orangtua dan
membenarkan seorang guru
b. Guru
Sebagai Evaluator Evaluator atau menilai sangat penting adalan rangkaian
pembelajaran karena setiap pembelajaran pada akhirnya adalah nilai yang dilihat
baik kuantitatif maupun kwalitatif, Manfaat evaluasi bisa digunakan sebagai
umpan balik untuk siswa sehingga hasil nilai ini bukan hanya suatu point saja
melainkan menjadi solusi untuk mencari kelemahan di pembelajaran yang sudah
diajarkan.
c. Guru
Sebagai Pengelola Kelas Manager memenage kelas, tanpa kemampuan ini maka
performence dan karisma guru akan menurun, bahkan kegiatan pembeajaran bisa
kacau tanpa tujuan.
d. Beberapa
fungsi guru sebagai pengelola kelas : Merancang tujuan pembelajaran
mengorganisasi beberapa sumber pembelajaran Memotivasi, mendorong, dan
menstimulasi siswa.
e. Guru
Sebagai Fasilitator Seorang guru harus dapat menguasai benar materi yag akan
diajarkan juga media yang akan digunakan bahkan lingkungan sendiri juga termasuk
sebagai sember balajar yang harus dipelajari oleh seorang guru.












