Bepergian merupakan perjalanan jauh seseorang dengan jarak tertetu,
baik keluar kota, provinsi, pulau, bahkan negara. Bepergian dalam bahasa arab
disebut dengan safar. Islam menganjurkan kita untuk bepergian karena hal ini memiliki
banyak manfaat, seperti menjalin silaturahmi hingga bisa menambah wawasan dan
pengetahuan kita tentang segala hal.
Namun, Rasulullah SAW juga menyatakan bahwa bepergian atau safar
merupakan bagian siksaan. Di samping resiko lapar, dahaga, dan kurang
istirahat, di dalam perjalanan juga terdapat resiko kecelakaan yang dapat
menyebabkan terluka atau bahkan meninggal dunia. Oleh karena itu, seorang
muslim harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dan menjadikan setiap
kepergiannya sebagai bagian dari amal saleh.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ السَّفَرُ قِطْعَةٌ
مِنْ الْعَذَابِ يَمْنَعُ
أَحَدَكُمْ طَعَامَ هُوَشَرَابَهُ
وَنَوْمَهُ فَإِذَا قَضَى
نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى
أَهْلِه
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda: “Bepergian (safar) itu
adalah sebagian dari siksaan yang menghalangi seseorang dari kalian dari makan,
minum dan tidurnya. Maka apabila dia telah selesai dari urusannya, hendaklah
dia segera kembali kepada keluarganya” (HR. Bukhari, HN 1677).
Adapun adab bepergian adalah sebagai
berikut:
1. Disunnahkan
tidak berpergian sendirian.
Bagi kaum
perempuan sudah jelas hukumnya. Bahwa tidak diperbolehkan pergi sendirian tanpa
mahromnya. Namun, juga berlaku untuk para laki-laki. Carilah teman yang bias
menemani. Karena adanya teman dalam perjalanan akan lebih menyenangkan.
2. Cari teman
safar yang baik.
Carilah
teman perjalanan yang baik. Karena mengajak teman yang baik sama halnya kita
mengajak teman untuk siap mengingatkan dalam hal kebaikan.
3. Lebih baik
tidak menjamak sholat.
Salah satu
syarat boleh menjamak shalat adalah bagi mereka yang sedang dalam perjalanan.
Ini merupakan kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Meskipun
boleh, kita dianjurkan untuk tidak menjamak shalat jika tidak ada kesulitan
4. Dianjurkan
mengqashar sholat.
Dalam
bepergian kita tidak dianjukan untuk menjamak sholat. Akan tetapi dianjurkan
mengkhasar sholat. Bahkan dihukumi sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan.
Shalat yang boleh diqosor adalah shalat yang berjumlah 4 rakaat, yaitu shalat
Dzuhur, Ashar, dan Isya’. Sedangkan shalat Maghrib dan Shubuh tidak boleh
diqasar.
5. Lebih baik
tidak sholat di atas kendaraan.
Syarat sah
shalat adalah menghadap kiblat. Jika tidak menghadap kiblat, shalat kita tidak
akan sah. Untuk itulah, kita dianjurkan untuk tidak melaksanakan shalat di atas
kendaraan ketika bepergian.Namun ada juga pendapat yang memperbolehkan kita
shalat di atas kendaraan jika memang tidak memungkinkan untuk turun.
6. Membaca doa
ketika keluar rumah.
Doa keluar
rumah ini untuk meminta perlindungan dan keselamatan dari Allah. Adapun bacaan
doanya adalah:
Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula wa
laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhim
7. Membaca doa
ketika naik kendaraan.
Membaca doa
sebelum naik kendaraan itu sangatlah penting demi keselamatan kita. Adapun
bacaan doa naik kendaraan darat dan udara adalah:
Subhanalladzi
sakhkhoro lana hadza wama kunna lahu muqrinin. Wa inna ila robbina
lamunqolibun.
Sedangkan doa kendaraan laut adalah:
Bismillahi
majreha wa mursaha inna robbi laghofururrohim.
8. Pamit kepada
kerabat dan tetangga.
Selama kita
masih hidup di dunia, maka kta mempunyai keluarga. Oleh karena itu, kita
dianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga dan tetangga.
9. Perbanyak
membaca doa selama perjalanan.
Salah satu waktu yang tepat untuk
memajatkan doa adalah ketika dalam perjalanan. Karena doa seorang musafir akan
diijabah oleh Allah.
10. Jika urusan
sudah selesai segeralah pulang.
Perjalanan
kita keluar rumah pastinya memiliki tujuan, baik silaturahmi, berdagang, atau
tujuan lainnya. Namun k=jika urusan sudah selesai maka segeralah kembali
pulang.
11. Melaksanakan
sholat dua rakaat setelah bepergian.
Sebelum
sesampainya rumah, disunnahkan untuk sholat dua rakaat di masjid atau mushola
terdekat, sebagai bentuk rasa syukur kita telah diberikan keselamatan.
12. Mengadakan
acara makan-makan setelah bepergian.
Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika datang ke
Madinah, beliau menyembelih unta atau sapi betina untuk jamuan. Kita sebagai umat Nabi Muhammad bisa meniru
yang dilakukan oleh beliau. Bukan meniru hal yang sama persis dengan
menyembelih unta atau sapi betina, tapi meniru penyelenggaraan acara
makan-makan setelah bepergian. Dalam Islam, hal ini disebut dengan An-Naqi’ah.








0 komentar:
Posting Komentar